{"id":23,"date":"2026-05-05T17:19:19","date_gmt":"2026-05-05T17:19:19","guid":{"rendered":"http:\/\/www.aeko.full.diskon.cloud\/?p=23"},"modified":"2026-05-05T17:36:53","modified_gmt":"2026-05-05T17:36:53","slug":"hukum-acara-peradilan-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aeko.full.diskon.cloud\/?p=23","title":{"rendered":"Hukum Acara Peradilan Agama"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berikut adalah struktur hierarki (outline) berupa Bab dan Sub-bab yang disusun berdasarkan analisis materi &#8220;Hukum Acara Peradilan Agama&#8221;. Struktur ini dirancang secara logis dan mendalam untuk memudahkan pemahaman terhadap poin-poin kunci dalam materi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<!--more-->\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>BAB I: PENDAHULUAN DAN SEJARAH PERADILAN AGAMA<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>1.1 Pengertian Peradilan Agama<\/strong> Menjelaskan kedudukan Peradilan Agama sebagai pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam atau tunduk pada hukum Islam.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>1.2 Sejarah Perkembangan di Indonesia<\/strong> Menelusuri sejarah kelembagaan mulai dari era Kesultanan, masa penjajahan Hindia Belanda (<em>Stbl.<\/em> 1882) dan Jepang (<em>Sooryoo Hooin<\/em>), hingga pengakuan kedudukannya di era Kemerdekaan RI di bawah Mahkamah Agung.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>BAB II: ASAS-ASAS DAN PAYUNG HUKUM ACARA<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>2.1 Payung Hukum Acara Peradilan Agama<\/strong> Mengidentifikasi rujukan hukum formil yang digunakan, yaitu HIR, RBg, Rv, dan KUH-Perdata, serta undang-undang khusus Peradilan Agama.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>2.2 Asas-Asas Dasar Persidangan<\/strong> Menjabarkan delapan asas pokok peradilan, termasuk asas kebebasan, wajib mendamaikan, peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan, persidangan terbuka, serta aktif memberi bantuan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>2.3 Penerapan Asas Personalitas Keislaman<\/strong> Menjelaskan syarat bahwa para pihak bersengketa dan dasar hukum sengketa harus berdasarkan Hukum Islam, beserta panduan untuk kasus penundukan diri secara sukarela maupun pengecualian subjek non-muslim.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>BAB III: KEWENANGAN (KOMPETENSI) PENGADILAN AGAMA<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>3.1 Kompetensi Relatif (Kewenangan Wilayah)<\/strong> Menguraikan aturan pengajuan gugatan berdasarkan tempat tinggal tergugat (<em>actor sequitur forum rei<\/em>), serta pengecualian khusus untuk perkara Cerai Talak dan Cerai Gugat.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>3.2 Kompetensi Absolut (Kewenangan Materi)<\/strong> Mengkategorikan kewenangan mutlak pengadilan pada jenis sengketa tertentu sesuai UU No. 3 Tahun 2006, meliputi hukum keluarga (perkawinan, waris, wasiat, hibah), amal\/keagamaan (wakaf, zakat, infaq), dan ekonomi syariah.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>BAB IV: PENYELESAIAN SENGKETA KHUSUS<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>4.1 Perkara Perkawinan dan Perceraian<\/strong> Membahas sebab putusnya perkawinan, penentuan asal-usul anak, serta penyelesaian cerai dengan alasan zina yang pembuktiannya dilakukan melalui tata cara <em>Sumpah Li&#8217;an<\/em>.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>4.2 Sengketa Harta Bersama (Gono-Gini)<\/strong> Menjelaskan pedoman pembagian harta bersama pasca perceraian (porsi seperdua bagian), serta penolakan gugatan terhadap harta bersama yang berstatus sebagai agunan\/jaminan utang.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>4.3 Hak Asuh Anak (<em>Hadhanah<\/em>)<\/strong> Mengkaji aturan hak pengasuhan anak yang mengutamakan pihak ibu kandung, serta alasan-alasan hukum yang dapat menggugurkan hak asuh tersebut (misal: dipenjara, berkelakuan buruk).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>4.4 Sengketa Kewarisan dan Penghapusan Hak Opsi<\/strong> Menegaskan bahwa penyelesaian pembagian kewarisan bagi pewaris beragama Islam wajib menggunakan hukum Islam dan menghapus hak pihak untuk memilih hukum lain.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>4.5 Sengketa Ekonomi Syariah<\/strong> Membahas lingkup sengketa bisnis syariah (perbankan, asuransi, dll), mekanisme penyelesaian lewat akad\/mediasi, serta larangan menyidangkan perkara ini di Peradilan Umum berdasarkan Putusan MK No. 93\/PUU-X\/2012.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>BAB V: PROSEDUR DAN MEKANISME LITIGASI<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>5.1 Tahap Administrasi Perkara<\/strong> Merinci proses awal mulai dari pendaftaran gugatan\/permohonan, pembayaran uang panjar perkara (<em>voorschoot<\/em>), hingga persiapan sidang dan pemanggilan para pihak.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>5.2 Tahapan Persidangan (Proses Litigasi)<\/strong> Mengurai kronologi jalannya persidangan, mulai dari pemeriksaan legalitas, kewajiban <strong>Mediasi<\/strong> (berdasarkan PERMA 01\/2016), proses jawab-jinawab (Replik-Duplik), tahap pembuktian, hingga penarikan kesimpulan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>BAB VI: PEMBUKTIAN, PRODUK PENGADILAN, DAN UPAYA HUKUM<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>6.1 Alat Bukti Perkara Perdata<\/strong> Menjabarkan lima instrumen alat bukti yang diakui dalam persidangan: bukti tertulis, saksi, persangkaan, pengakuan, dan sumpah.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>6.2 Karakteristik Produk Pengadilan Agama<\/strong> Membedakan bentuk keluaran dari majelis hakim: berupa <strong>Penetapan<\/strong> (untuk perkara jenis permohonan) dan <strong>Putusan<\/strong> (untuk perkara gugatan).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>6.3 Mekanisme Upaya Hukum Lanjutan<\/strong> Memetakan langkah hukum bagi pihak yang keberatan dengan putusan melalui &#8220;Upaya Hukum Biasa&#8221; (Banding ke Pengadilan Tinggi Agama dan Kasasi ke MA), serta &#8220;Upaya Hukum Luar Biasa\/Istimewa&#8221; (Peninjauan Kembali \/ <em>Request Civil<\/em>).<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berikut adalah struktur hierarki (outline) berupa Bab dan Sub-bab yang disusun berdasarkan analisis materi &#8220;Hukum Acara Peradilan Agama&#8221;. Struktur ini dirancang secara logis dan mendalam untuk memudahkan pemahaman terhadap poin-poin kunci dalam materi tersebut.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[4,3],"class_list":["post-23","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pkpa","tag-agama","tag-pkpa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aeko.full.diskon.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/23","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aeko.full.diskon.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aeko.full.diskon.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aeko.full.diskon.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aeko.full.diskon.cloud\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=23"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.aeko.full.diskon.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/23\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26,"href":"https:\/\/www.aeko.full.diskon.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/23\/revisions\/26"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aeko.full.diskon.cloud\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=23"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aeko.full.diskon.cloud\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=23"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aeko.full.diskon.cloud\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=23"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}